A LONG ROAD TO SOMEWHERE.
Namaku Erina. Aku bekerja si sebuah perusahaan advertising di bagian artwork. Bukan perusahaan besar hanya sebuah firma yang dibangun oleh beberapa orang termasuk ayahku. Aku cinta
dunia art karenanya teman-temanku tidak mau menyia-nyiakan kelebihanku itu sehingga aku direkrut tanpa banyak syarat. Semua hal yang berhubungan dengan design dan art di embankan padaku karena mereka sangat percaya pada kemapuanku. Selama ini firma yang kami rintis terus mengalami perkembanngan. Banyak perusahaan besar mula mempercayakan iklan untuk produk mereka pada kami. Perkembangan yang sangat pesat inilah yang akhirnya membawa kami memiliki rating yang sangat tinggi dalam periklanan. Beberapa waktu lalu kami mendapat kontrak kerjasama dengan sebuah perusahaan transportasi udara yang paling terknenal di Indonesia. Awalnya kami kurang begitu yakin dengan hasil yang bakal kami raih mengingat kurangnya anggota yang kami miliki. Mengiklankan sebuah produk perlu observasi menyeluruh apalagi ini berhungungan dengan membawa nama indonesia. Ini bukan hal kecil dan sepele butuh banyak sekali obbservasi besar2an untuk menjalankannya otomatis juga butuh tenaga ekstra agar semua berjalan lancar. Sedangkan anggota tim kami hanya berenam yaitu Dina, Andre, Raihan, Eka, Aku, Dan Hendrik untuk menjalankan semua sesuai dengan skenario yang sudah kami rancang selama berbulan-bulan. Kami juga melakukan audisi para model untuk iklan ini. Voilaa!! beberapa model dari beberapa kompetisi akhirnya kami dapatkan. Syuting iklan ini butuh waktu 1 bulan. Kami memilih tempat-tempat indah yang natural, tradiosional, original dan tentunya artistik sebagai pendukung utama sebuah iklan. Akhrinya kami melaksanakan syuting di beberapa tempat indah di Indonesia. Iklan yang kami buat mendapat acungan jempol banyak perusaahaan sampai mendapatkan satu penghargaan iklan dari televisi swasta.
12 December 2009.
'tuuutt..tuuuutt..tuuutt” bunyi hapeku memekakkan telingaku hingga memaksaku terbangun di waktu semalam ini. Aku menengok wakerku menunjukkan masih pukul 1 tengah malam. Aku buru-buru mengangkat hape yang ada disamping bantalku dan menjawab seseorang yang tengah berusaha menghubungiku di malam selarut ini. “hallo assalamualaikum..” jawabku dengan suara agak serak. “waalaikumsalam sayang maap kakak ngganggu kamu, kamu pastinya masih istirahat nie...ni kakak juga nyempet-nyempetin hubungi kamu”. timpalnya. “ooo..ni kakak, kakak sekarang lagi dimana?..”tanyaku sambil memegangi kepalaku yang masih pusing karena syok terbangunkan mendadak. “sayang maafin kakak ya, kakak cuma mo bilangin kamu, winter ini kakak mutusin balik ke Indonesia..kakak kangeen banget sama kamu, ni tadi kakak lagi ngurus surat ijin cuti di kantor dan akhirnya atasan kakak barusan acc, saking girangnya kakak langsung telfon kamu”. Jawabnya lagi sambil tergopoh-gopoh . “ ya kak, erin juga kangen banget sama kakak”.timpalku “ ya deh sayang, kakak ke bagian administrasi dulu ya...love u honey..”. “ tep..tut..tut..tut” bunyi hapenya dimatikan. Ada rasa bahagia dalam hatiku, pria yang selama ini menjalin hubungan jarak jauh denganku akhirnya akan kembali ke kota ini setelah 2 tahun dia tidak bisa balik karena proyek besarnya. Nino, dia pria yang sangat baik, setia dan perhatian membuat hatiku luluh setelah dia berusaha mendekat hampir selama 2 tahun. Kebaikannyalah yang akhirnya membuatku menerima cintanya 2 tahun lalu. Setahun setelah kami meresmikan hubungan kami,dia harus pergi ke Amerika Utara, tepatnya Kanada karena lamaran pekerjaannya di terima disana. Dia lulus S2 Nan-yang University, dia ambil spesialisasi teknik industri dengan prestasi yang cukup gemilang. Entah bagaimana Tuhan tiba-tiba mempertemukan aku dengan pria sesempurna itu dalam hati kadang aku masih tidak percaya, aku..aku kadang masih sulit membayangkan masa laluku, bagaimana hidupku di masa lalu, bahkan aku sendiri sudah lupa apa kebiasaanku dulu.....hanya ortu dan teman-temanku lah yang selalu mensupportku untuk terus maju dan berusaha menjawab pertanyaanku ketika aku mulai bingung tentang segala hal. Dan kak Nino lah yang selalu membuatku terus mengerti arti kehidupan. Dia selalu ada ketika aku goyah dan butuh sadaran. Tuhan terima kasih Engkau mempertemukanku dengan belahan hatiku yang sangat aku sayangi.
Hari ini pergi kekantor serasa lebih bersemangat. Rasanya atmospher indah dari syurga tiba-tiba mengitari ruanga kantorku. Dikit berlebihan mungkin tapi inilah yang aku rasakan.
“ duuu...dapa nie, kok dateng-deteng dah senyam-senyum gt”.celetuk Dina sambil meneguk segelas kopi susu.
” bagi dunx din” langsung aku sambar mug yang ada di genggamannya
“ eh dasar kamu ya..bikin sendiri napa”.kata si Dina sambil cemberut...
” yah elah orang dikit aja..gk boleh, pelit lu din, heh konon orang pelit tuh matinya perutnya buncit loh..” timpalku sambil cekikan.
“ huh dasar lu!” kata si Dina ketus. Andre dan Hendrik ikut tersenyum melihat tingkah Dina.
“ ya nie..dapa lu Rin, kok kayaknya lagi happy banget..” tanya si Hendrik.
“Kak Nino mo balik ke Indonesia..” jawabku
“ what??! yang bener Rin??..” jawab mereka serentak.
“wah selamat ya akhirnya kamu bisa peluk2 dia sepuasnya lagi”kata Andre spontan
“ sialan lu ndre ya gk segitunya kali..”jawabku.
“ yaa..Akhirnya si romeo kembali ke pelukan si uler kuntet sambil membawa kuda blawu dan bunga bakung..” kata si Hendrik sok mendramatisir keadaan sambil cekikikan.
“ hah...udah2..mending sekarang kita ngerjain planing kita hari ini..” tegasku.
“ yah elah si bos gitu aja jadi naik darah..”.
Aku hanya tersenyum simpul dengan tingkah polah temen2ku itu. Yang jelas aku sangat bersyukur kakak kembali. I miss him so much.
19 December 2009
“ sayang kakak besok nyampe di bandara pukul 5 sore. Kamu jemput kakak ya, kakak gk sabar pengen buruan liat kamu..” kata suara dari telpon genggamku.
“ ya,kak Erin pasti usahain jemput kakak, Erin juga udah kangen sama kakak”.jawabku lembut. Aku melihat jam tanganku yang masih menunjukkan pukul 6 pagi. Aku suka jalan-jalan sendiri memutari kota ini, selain udaranya sejuk suasananya juga menyenangkan, banyak para wisatawan menghabiskan waktu tiap pagi. Terutama di taman deket pantai. Hari ini aku pengen dikit refreshing menghilangkan suntuk karena semalaman aku ngerjain storyboard untuk sebuah iklan minuman. Dan disinilah tempat favoritku menghabiskan waktu untuk refreshing. Dulu aku dan kak Nino sering pergi kesini. Kami ngobrol, becanda, dan mengabadikan pemandangan indah dengan handycam kesayangan dia. Tapi, entah kenapa kadang aku merasa pernah menngenal tempat ini sebelumnya. Seperti Deja vu yang tiba-tiba muncul. Aku seperti pernah kesini dengan sesorang tapi aku belom pernah melihatnya. Seseorang yang begitu dekat dan membuatku ingin memberikan segalanya. Dan pria itu bukanlah kak Nino........
Tempat ini benar-benar sangat membantu merefresh pikiranku. Aku berjalan mengitari sebuah tempat dimana ad air mancur dan sebuah tempat dudukan dari semen. Capek juga berjalan-jalan walo hanya disekitar saja. Aku memutuskan untuk duduk di diatas dudukan itu sambil mengahdap ke laut kebetulan dudukan itu kosong. Aku memperhatikan aktivitas para wisatawan itu, ada yang bermain layangan, membentuk bangunan dari pasir pantai dan ada pula yang terdiam merenung di pinggir pantai, mungkin orang itu sedang memikirkan pacarnya yang telah pergi meninggalkannya atau pacarnya yang selingkuh dengan sahabatnya..hah...entahlah. Tiba- tiba aku melihat sesosok pria yang dari kejauhan sejak kira-kira 5 menit yang lalu melihat ke arahku, dia terus melotot dari jaraknya yang kurang lebih 300 meter dari posisiku duduk. “Duh aku jadi takut sendiri, siapa sih tu orang dari tadi melotot terus” batinku sambil dikit mrinding juga “ orang itu terlihat pernah mengenalku sebelumnya, dan dia terlihat memndangku dengan ekspresi memastikan. “ ih jadi risih juga aku” batinku lagi langsung ngacir dari posisiku semula. Aku mempercepat langkahku menuju rumah melewati keramaian wisatawan dan para pedagang asongan sambil mencari-cari jalan kecil agar orang itu tidak mengikuti. Akhirnya aku menemukan tempat yang aman di celah-celang lorong diantara perumahan penduduk. Aku menyandarkan punggungku dengan napas ngos-ngosan.
“ siapa orang itu, kenapa dia mengikutiku, apa dia pernah mengenalku?tapi apakah aku juga mengenalnya?” hatiku terus bertanya.
Bayangan pria itu terus memenuhi pikiranku. Dia tinggi penampilannya rapi dengan kemeja biru tapi aku tidak begitu jelas melihat wajahnya. Siapa dia?...dua kata itu terus memenuhi kepalaku membuatku terus melamun.
“ tuuut..tuuut” tiba-tiba hapeku berbunyi.
“ hallooo..Erin, nak kamu tidak lupa kan kalo hari ini harus menjemput calon suamimu” kata wanita itu. Mama menelponku untuk ngingetin kalo hari ini aku punya tugas menjemput kak Nino.
“ya ma, Erin gk lupa kok, ni Erin lagi siap-siap, kemaren dia minta di jemput jam 5 sore”kataku pada mama. Setelah melipat mukena dan sajadahku aku segera berganti pakaian untuk segera berangkat ke bandara. Bandara Ngurah Rai dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari rumahku. Aku mengeluarkan mobilku dan meluncur ke Bandara.
“tuuut..tuuuutt..” bunyi hapeku lagi dan aku segera mengangkatnya.
“ sayang ni kak dah landing, kakak tunggu kamu di kantin bandara ya?”pinta kak Nino.
“ yes bos beres..”jawabku sambil memberikan tertawa renyahku.
Sesampai di bandara aku segera menunju kantin. Sesosok pria tinggi dengan kulit sawo matang terang, pakaian rapi dan travel bag disampingku melambaikan tangannya kearahku. Melihat senyum sumringah di wajah yang menurutku mirip artis Korea di film Endlesslove hatiku berbunga-bunga. Aku segera menghampirinya dan mencium tangannya. Tanpa aku perintah dia kemdian memelukku. Aroma tubuhnya masih sama, dia memakai parfum yang aku pilihkan waktu pertama kali kami jadian.
“ kakak” batinku dalam hati.
“Rin, kamu tambah cantik sayang..tapi kok kurusan sie, kbanyakan mikirin kakak ya hahaha”.godanya padaku.
“ klo iya..,kakak harus tanggung jawab dong..”hardikku padanya sambil ku keluarkan senyuman nakalku.
“ ya deh kakak mau kok tanggung jawab, ntar malem kakak mau ngajak kamu makan di tempat spesial, resto temen kakak yang 2 minggu lalu baru di buka di kuta..”katanya sambil tersenyum manis padaku.
“ok” jawabku sederhana.
Dalam perjalanan pulang Kak Nino yang menggantikan nyetir mobil. Setiap beberapa menit dia masih sempet menatapku sambil melemparkan senyum tulusnya. Aku melihat ada cinta yang besar dalam hatinya. Cinta yang hanya dia persembahkan untuk gadis impiannya yaitu aku. Aku yang penuh kekurangan, aku yang bertubuh mungil, aku yang berwajah sepolos anak esempe, aku yang selalu merepotkan dia. Tapi baginya aku adalah semangatnya aku adalah “spirit” baginya..
aku masih memikirkan pria yang mengejarku tadi. Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya. Tapi entah dimana.
24 December 2009
Ini adalah hari ketiga kak Nino menghabiskan waktu di kota ini. Banyak hal yang kami habiskan berdua, memasak bersama mencoba resep-resep baru itu adalah hobi kami. Dia sering membuatkan aku masakan yang tidak pernah aku makan sebelumnya, dia sering membuatkanku makanan ringan ketika aku sibuk berada di kantor. ah..bagiku dia adalah pria yang romantis dan perhatian. Dia paling suka kalo aku ajak naik gunung ketika musim hujan ..dia suka hujan, dia suka air yang jatuh dari langit berupa titik-titik air, suatu mekanisme yang menarik, adanya terik matahari menguapkan air di permukaan tanah dan mengumpulkannya di langit menjadi awan kemudian terbawa angin dan berjatuhan ketika adanya perbedaan titik jenuh, bener-bener rahmat Allah yang patut di syukuri katanya. Beberapa hari ini kota kecilku diguyur hujan. Kadang pagi hari udah tampak seperti sore karena mendung. Angin semilir mengikuti jatuhnya titik-titik air, ketika pulang kantor aku kadang jalan kaki dan mengadahkan mukaku ke atas merasakan tetes-tetes tipis air menerpa wajahku, ketika memejamkan mata, seakan aku kembali kesebuah masa dimana aku bermain air hujan dengan seseorang, tapi entah siapa dan dimana. Tuhan bantu aku untuk mengingat semuanya...
25 December 2009
Hari ini kami berdua berencana membeli sebuah hasil jepretan seorang fotografer kawakan di Bali. Dia memiliki sebuah galeri seni yang terpajang berbagai karya seni rupa, nama geleri itu Paradise Gallery. Lukisan dengan berbagai aliran terpasang dengan rapi di dinding-dinding galeri. Nampak 1 diantaranya adalah lukisan favoritku. “a long road to somewhere” itu nama lukisannya. Menggambarkan sebuah perjalannan ke suatu tempat tujuan hidup seseorang. Ketika aku bertemu dengan pelukisnya aku sempat menanyakan kenapa dia memberi judul itu. Kemudian dia bercerita bahwa itu terinspirasi dari sebuah cerita cinta ketika dia berada di kota Solo, the spirit of Java. Ada sebuah kenangan yang dia alami dengan seoarang wanita Bali tapi hidup di Solo, pelukis itu sangat mencintai wanita itu hingga rela mengorbankan segala hal deminya, sayangnya wanita itu anak seorang Bedande (julukan pemuka agama di Bali) sehingga hubungan mereka sangat ditentang oleh orang tua sang wanita karena perbedaan prinsip. Akhirnya mereka berpisah. Aku memperhatikan raut wajah si pelukis itu ketika sedang bercerita. Betapa mendalamnya cerita di balik lukisannya.
Galeri ini banyak dijual hasil jepretan si pemilik galery. Hasil fotografinya benar-benar mengagumkan. Sebuah karya yang merupakan paduan antara teknik fotografi dan karya seni. Bisa dibilang masterpiece. Kak Nino tau banget aku suka dengan fotografi dan lukisan makanya hari ini dia ingin memberiku surprise membelikanku sebuah hasil fotografi sang masterpiece. Untuk mengganti kado ultahku yang terlewat karena dia sibuk di USA. Sebenarnya aku tidak pernah meminta apapun darinya. Yang aku inginkan hanyalah dia selalu ingat denganku selalu setia dan tidak akan pernah meninggalkanku.
Ketika memasuki pintu masuk galeri para pengunjung sudah di jamu dengan berbagai fotografi hasil karya fotografer amatir di Bali tapi menurutku foto-foto itu sudah selayaknya disebut foto para master karena tema dan tekniknya sudah sangat unggul. Lorong galeri tampak begitu anggun dengan design interior yang artistik ditambah dengan pencahayaan lampu yang sempurna. Siapapun bakal betah berada disni. Aku mengamati foto-foto dari ujung hingga ke area tengah yang merupakan area berbagai jenis lukisan.
“gubrak !!” suara itu sangat keras hingga menggema sampai ujung lorong. Oh tidak aku menjatuhkan sebuah vas bunga. Aku segera memungutinya dan meminta maaf pada orang yang ikut memunguti pecahan vas didepan ku.
“ maap pak saya gk sengaja..mungkin karena..” kata-kataku terhenti ketika melihat dia. Sepertinya aku pernah melihat orang ini dari segi fisik dan penampilannya.
“ ya Tuhan ini adalah yang memelototiku dan mengejarku ketika itu..” aku kaget hatiku berdegup kencang.
“maaf saya harus pergi..” kataku meninggalkanya dengan tergopoh-gopoh.
“ Anna...na..ana, kamu mau kemana..” teriaknya. Aku tidak mempedulikannya. Aku hanya ingin segera ketemu kak Nino dan segera mengajaknya pergi dari tempat itu. “Kak Nino..Kak Nino ada dimana” jeritku dalam hati. Langkahku semakin cepat karena pria itu terus mengejarku hingga pada akhir lorong. Akhirnya aku melihat kak Nino sedang bercakap-cakap dengan pemilik galeri. “ kak..” ucapku sambil menangis memeluknya. “ Erina..kamu kenapa?” tanyanya penasaran. “ kak ..kita pulang yuk” pintaku padanya. Kak Nino terlihat paham.
“ ok baiklah, tapi kamu apus air matamu dulu..malu dilihat pak Yanto” bisiknya ke telingaku.
Aku hanya mengangguk dan Kak Nino segera berpamitan dengan pak yanto. Di perjalanan Kak Nino hanya diam. Dia baru bertanya padaku ketika kami sampai di rumah.
“Erina..”panggilnya lembut.
“ kenapa kamu menangis dan ketakuatan tadi?” tanyanya dengan nada menenangkan.
“kak..sebenarnya ada hal yang mengganjal pikiranku sejak beberapa hari yang lalu..”
'ada seorang pria yang memperhatikanku terus dan dia berusaha mengejarku...”
“dia menyebutku..Anna..Anna” ungkapku.
“kak orang itu siapa...apa dia mengenalku?.kenapa dia memanggilku Anna?..apa dia ada hubungannya dengan masa laluku...kepalaku pusing ketika harus mengingat semuanya..”.
Kak Nino hanya diam. Dia memandangku kemudian memelukku erat.
“Dia bukan siapa-siapa, dia hanya pria yang salah mengenalimu. Mungkin wajahmu mirip dengan temannya atau dia iseng ngerjain kamu..pacar kakak kan emnag paling cantik” katanya dengan dikit menggoda membuatku ikut tersenyum
“sudah ya jangan dipikirkan lagi..kakak janji akan selalu jagain kamu”. Katanya begitu menenangkan.
To be continued...
26 desember 2009
Hari ini kak Nino mengajakku ke resto baru temannya. Dia memenuhi janjinya beberapa waktu yang lalu.
“ Erina, nanti malem kamu prepare ya, kakak ingin ngajak kamu ke tempat special”.
“oh ya jangn lupa dandan yang cantik, ntar kakak knalin ke temen2 kakak”.
“beres kak..dont worry temen2 kakak pasti bakal kaget ngeliat calon istri kakak yang secantik ini..hehehe”. Kak Nino ikut ketawa dengan ungkapanku yang over pede.
Pukul 6 sore setelah sholat aku bergegas memilih baju yang tepat untuk acara semi resmi itu.
“hmm..well, kayaknya dress merah hati cocok banget deh” .
Aku segera memilihnya dan kemudian memakai dress itu. Setengah jam kemudian sebuah mobil ada di depan rumahku.
“ding...ding”suara bel berbunyi.
“ah..itu pasti kak Nino”
aku segera membukakan pintu.
“waaah sayang beneran ini kamu, cantik banget kakak gk pernah liat kamu seperti ini sebelumnya..” katanya sambil tertawa menggoda.
“ah kakak bukannya muji beneran malah ngledek” ungkapku bersungut-sungut.
“hahhaha..gitu aja dah marah, gk jadi cantik beneran ntar “katanya sambil tersenyum.
Dia melihatku dalam sambil tersenyum seakan semuanya akan segera menghilang esok hari. Aku membalas senyum tulusnya. Sungguh betapa beruntungnya aku menemukan pria yang memiliki ketulusan sebesar itu.
Kami segera berangkat. Kebetulan resto baru itu tidak begitu jauh dari tempatku tinggal. Sesampai di resto itu. Kak Nino menemui sang pemilik resto. Mereka langsung bertegur sapa dan bersalaman. Kak Nino pernah cerita tentang temannya itu. 5 tahun yang lalu perusahannya bangkrut. Kemudian berusaha memulai usaha baru yaitu restoran Eropa dengan bantuan keuangan dari Ayah kak Nino. Pria itu pernah sekolah Chef dan sudah pernah pengalaman bekerja di sebuah resto Indonesia di Perancis. Dia bahkan pernah di rekrut salah satu hotel mewah di Inggris selama 1 tahun. Pengalamannya sebagai chef sudah lumayan banyak sehingga dia yakin bila menjalankan bisnis resto di Bali dia bakal sukses.
“ hi..Nino, whazz up lol?!” sapanya
“long time no see, how's ur job?”.
“it's going well, thanks” jawab Kak Nino.
“oh..is that ur girlfriend?” tanyanya. Kak Nino hanya mengangguk padanya.
“perfect!'serunya. Dalam hati aku tersenyum kegirangan setelah mendengar 1 katanya kepalaku jadi sebesar resto itu karena over pede.
“ namaku Bagus, ya..seuai dengan tampangku bukan?” katanya sambil tertawa berusaha membuat joke
“ok guys,..ane dah siapin tempat spesial buat kalian”katanya sambil mengarahkan kami ke tempat yang udah disediaain sama dia.
“this area is special for u two, u can see a perfect scenery from ur seat, a perfect sun set..can u see that??” tambahnya lagi sumringah dengan kata-kata persis iklan yang pernah aku buat.
“well, guys gk sah banyak omong just enjoy it”. Bagus segera pergi meninggalkan kami karena banyak hal yang harus dikerjakannya. Aku dan kak Nino segera duduk mennggu waiter sambil melihat pemandangan yang indah di samping kami. Angle kami sangat tepat. Kami bagaikan Romeo dan Juliet yang saling memadu kasih dengan cahaya sore menambah indah suasana ditambah lagi semilir angin laut. So perfect!.